3 Kisah Perjuangan Ayah Ini Bikin Terharu

Sabtu, 14 November 2020

Di dalam mendidik anak, peran ayah sama pentingnya dengan ibu. Keduanya memiliki fungsi dan tugasnya masing-masing. Jika ibu lebih mencerminkan sebagai sosok yang lembut, ayah biasanya akan terlihat sebagai sosok yang bijaksana serta penyayang.

Ayah tidak hanya diidentikkan dengan pencari nafkah dan pemimpin keluarga, ayah juga menjadi pelindung, pendidik, dan juga tempat bermain bagi anak-anaknya.

Kisah-kisah ayah di luar sana selalu bisa membuat kita terharu. Bagaimana mereka berjuang keras bagi keluarganya, rela mengorbankan tenaga dan waktunya demi istri dan anak-anaknya bisa makan.

Tak jauh berbeda dengan ayah-ayah di pedalaman. Di tengah sulitnya kondisi yang dihadapi, mereka tetap melakukan yang terbaik bagi keluarganya. Berikut adalah 3 kisah perjuangan di pedalaman yang akan membuat kita semakin menghargai sosok ayah:

1.    Kisah Pak Burhan, Pelindung bagi Kedua Putrinya

Entah apa yang dirasakan Pak Burhan ketika diusir dari kontrakan yang ia tempati lantaran tidak sanggup lagi membayar. Pak Burhan tidak memikirkan dirinya, melainkan kedua putrinya, Lia dan Rianti. Di mana nanti mereka akan tinggal?

Pak Burhan berasal dari Desa Olat Balekong, Kecamatan Buer, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB). Beliau sudah lama berpisah dengan istrinya. Kedua putrinya pun ikut bersamanya.

Kehidupan Pak Burhan sungguh berat, tapi beliau harus tetap kuat demi kedua putrinya. Apalagi, putri bungsunya, Rianti terlahir dengan kondisi tuli dan retardasi mental. Butuh perhatian lebih untuk menjaganya.

Beruntung, setelah diusir dari kontraka, salah satu tetangganya menawarkan tempat tinggal dan pekerjaan. Sejak saat itu beliau bekerja menjadi buruh pembuat batu bata dengan bayaran Rp50.000 per hari.

Rumah yang ditinggali Pak Burhan dan kedua putrinya sangat jauh dari kata layak. Rumah itu berukuran 3x3 meter saja. Tanpa atap dan dinding, air hujan pun dengan mudah masuk dan membasahi semua isi gubuk ketika hujan turun.

Namun Pak Burhan tetap bersyukur, beliau tetap giat bekerja agar bisa membangun rumah yang lebih layak untuk dua putri tercintanya.

Sahabat, Pak Burhan adalah sosok ayah yang merelakan hidupnya untuk menjaga Lia dan Rianti. Yuk, bantu Pak Burhan agar bisa membangun rumah untuk kedua putrinya. Klik di sini.

2.    Pak Dedy, Penuh Dedikasi Demi Keluarga

Pekerjaan apapun adalah baik selama halal dan dikerjakan dengan sepenuh hati. Hal itulah yang menjadi penyemangat bagi Pak Dedy, seorang pemulung dari Kabupaten Dompu.

Meskipun seringkali dianggap sebagai pekerjaan rendahan, Pak Dedy tidak pernah merasa malu dan terhina. Baginya, asalkan bisa memberi makan untuk istri dan anaknya itu sudah lebih dari cukup.

Sehari-hari, Pak Dedy berangkat dari pagi dengan mendorong gerobak sampahnya. Tak lupa, beliau mengajak anaknya Hendra untuk pergi memulung bersama. 

Suatu hari, kejadian buruk menimpa Pak Dedy dan anaknya. Saat sedang membakar sampah, ada botol gas meledak. Alhasil ledakan itu mengenai wajah Pak Dedy dan anaknya. Hendra mengalami luka bakar yang parah, sementara Pak Dedy terkena tapi tidak terlampau parah.

Dengan luka di wajahnya, Pak Dedy tetap bekerja. Meski sambil menahan sakit, ia tetap semangat bekerja. Beliau harus membiayai Hendra yang masih dirawat di rumah sakit.

Kondisi Hendra, anak Pak Dedy masih belum sembuh. Mari bantu Pak Dedy dan keluarganya. Klik di sini.

3.    Pak Kasim Lata, Ayah Inspiratif dari Alor

Jauh di pedalaman Alor, tepatnya di Desa Nusa Kenari, Kecamatan Teluk Mutiara Pak Kasim Lata tinggal bersama keempat anaknya, Umi, Rama, Zul, dan Jamal. Istri beliau telah meninggal sejak melahirkan anak terakhir mereka. Dua tahun berselang, anak bungsunya dipanggil oleh Sang Maha Kuasa akibat kurang gizi.

Sejak saat itu, Pak Kasim seorang diri membesarkan empat anaknya. Sembari bekerja sebagai tukang ojek gunung, Pak Kasim mendidik putra-putrinya dengan sepenuh hati, berperan sebagai ‘ibu’ bagi anak-anaknya.

Meski hidup serba terbatas, Pak Kasim tak menyerah dan tetap berusaha sekuat tenaga agar anak-anaknya bisa bersekolah dan memiliki masa depan yang baik.

Sayangnya, kini anak-anaknya masih belum sanggup bersekolah karena tak ada biaya. Sahabat, mari bantu Pak Kasim dan anak-anaknya di sini.

Sahabat, demikianlah kisah-kisah perjuangan ayah di pedalaman. Semoga dapat menginspirasi kita dan lebih mengharai sosok ayah dalam kehidupan.