Hari Difabel Internasional : Memaknai Perjuangan Penyandang Disabilitas

Senin, 30 November 2020

“Jika kamu tidak bisa mendapatkan keajaiban, jadilah salah satunya” 

Tidak ada yang menyangka, seseorang yang memiliki keterbatasan di hidupnya bisa menjadi sukses dan dikenal banyak orang. 

Adalah Nick Vujicic, pria berkebangsaan Australia yang lahir dengan sindrom langka bernama tetra-amelia. Sindrom Ini membuat Nick tak memiliki lengan dan kaki. 

Keterbatasan yang dialami Nick awalnya membuatnya depresi dan stres, akan tetapi ia bisa cepat bangkit itu dan berkat perjuangannya Nick kini bisa dikenal sebagai motivator internasional yang bukunya telah diterjemahkan ke 30  bahasa di seluruh dunia.

Sahabat, bagaimana cerita di atas? Menginspirasi sekali ya. 

Menjelang hari difabel internasional yang diperingati setiap tanggal 3 Desember, saatnya kita memaknai kembali perjuangan para penyandang difabel di pedalaman yang tak pernah menyerah dalam hidupnya.

Pak Suratman, Guru Ngaji Asal NTB

Pak Suratman tinggal berasal Jauh di pedalaman Nusa Tenggara Barat (NTB), tepatnya di Kelurahan Doro Tangga, Kecamatan Dompu, Kabupaten Dompu 

Sehari-hari, Pak Suratman bekerja sebagai tukang kayu dan juga sesekali menjadi guru ngaji di daerah rumahnya.

Pada tahun 2009 lalu, Pak Suratman mengalami kecelakaan yang membuat ia kehilangan kaki kirinya. Kesedihan menimpa Pak Suratman, apalagi ia masih harus menafkahi anak semata wayangnya.

Namun semangat Pak Suratman tidak ikut hilang bersama kaki kirinya, perlahan ia mulai bangkit dan tetap bekerja walau dengan kondisi yang berbeda. Ia juga bertekad terus mengajar dan menebar manfaat bagi anak-anak muridnya. 

Perjuangan Pak Suratman menginspirasi banyak orang baik di Indonesia, mereka beramai-ramai membantu Pak Suratman agar bisa membeli kaki palsu. Akhirnya pada Juli 2019 Pak Suratman berhasil membeli kaki palsu untuk kaki kirinya. 

Pak Alwi, Guru Ngaji Asal NTT

Sejak kecil, Pak Alwi sudah kehilangan kaki kanannya. Usianya kini menginjak 32 tahun, sepanjang hidupnya ia berjalan dengan menggunakan bantuan tongkat.

Pak Alwi adalah contoh nyata tentang seseorang yang memiliki hati mulia. Keterbatasan yang ia miliki tak membuatnya berkecil hati, Pak Alwi justru menafkahkan dirinya menjadi guru ngaji di kampungnya.