Kisah Guru Mengajar di Pedalaman Indonesia Timur

Jumat, 19 Maret 2021

Peran guru dalam pendidikan sangatlah besar. Bahkan tak jarang seorang siswa yang menyukai salah satu mata pelajaran tertentu karena sosok gurunya yang sangat inspiratif. Tidak seperti di kota-kota besar lainnya dimana fasilitas dan juga akses dalam mengajar bisa didapat dengan mudah.

Di pedalaman para guru dan juga siswa yang harus berjuang ekstra keras  dalam menempuh pendidikan. Hal tersebut bukan karena mereka yang menginginkannya. Namun, karena kondisi yang memaksa mereka untuk seperti itu. Berikut kisahnya spesial untuk Anda.

1. Pak Adi Darma: Perjuangan menempuh perjalanan 75 km dengan motor usang.

ustadz-adi-darma-perjuangan-dengan-motor-usang

Hampir setiap hari Pak Adi Darma harus menempuh perjalanan sejauh 75 km. Jika Anda tinggal di kota besar, perjalanan ini bisa ditempuh sekitar 2-4 jam. Cukup jauh bukan?  Apalagi medan yang harus ditempuh pun sangat terjal sehingga membuat Pak Adi Darma kesulitan, hingga jatuh berkali-kali.

Hanya ditemani dengan motor hasil pinjaman yang sudah usang membuat perjalanan Pak Adi Darma tak semulus jalan tol. Apalagi harus melintasi derasnya sungai dan juga dinginnya hujan di hutan pedalaman.

Guru ngaji yang mengajar di Kampung Bombaru, Desa Tribur, Kec. Alor Barat Daya, Kab. Alor, NTT ini terkadang sampai harus mengabdikan  dirinya selama seminggu. Untuk melepas rindu dengan keluarga kemudian Pak Adidarma pulang selama 1 sampai 2 hari dan melanjutkan perjuangannya untuk mengajar ke pedalaman lagi.

Selengkapnya cerita perjuangan Ustadz Adi Darma

Baca Juga: 3 Cara Menghargai Jasa Pahlawan

 

2. Bu Paizah: Tumor Ganas di Pipi yang Menggerogori Semangatnya.

bu-paizah-tumor-ganas-menggerogoti-pipi


Pernahkah Anda mengeluh sakit, tapi tidak memiliki uang untuk berobat? Pasti sedih bukan? Ya, kondisi tersebut sedang dialami oleh seorang guru yang sangat luar biasa bernama Bu Paizah.

Sebelumnya, Bu Paizah adalah seorang guru ngaji di salah satu TPQ di kampungnya, di Dusun Tompek, Desa Kelebuh, Kec. Praya Tengah, Kab. Lombok Tengah, NTT. Namun, ia harus berhenti karena ada tumor yang menggerogoti rahang dan setengah bagian kepalanya.

Baca Juga: Perbedaan Tumor dan Kanker Serta Apa yang Dirasakan oleh Pasiennya

7 Tahun sudah (sejak 2013) Bu Paizah berjuang dengan sakitnya tersebut. Pada awalnya ia mengeluhkan ada benjolan kecil di pipinya. Pada saat itu akhirnya beliau pun memberanikan diri untuk memeriksakan ke puskesmas terdekat.

Betapa terkejutnya saat mendengar ia didiagonasa menderita tumor. Karena tidak memiliki biaya untuk mengobatinya, Bu Paizah tak ada pilihan lain. Ia hanya bisa berdoa tiap hari agar sakitnya segera reda. Ia tak lagi melanjutkan pengobatan.
 Apalagi di tahun 2015, ia harus berhenti berobat total karena tengah mengandung dan akan melahirkan anak kembarnya.

Kondisi tersebut membuat Bu Paizah dengan berat hati harus meninggalkan kebiasaan mengajar sebagai guru PAUD dan guru mengaji yang selama ini ia cintai.

Sahabat bisa membaca cerita lengkap Bu Paizah di sini yah.

4. Ustadz Hasan : Tak Lagi Bisa Mengajar Anak-Anak karena Tumor Ganas

ustadz-hasan-tak-bisa-mengajar-karena-tumor

Apa yang Anda rasakan jika tumbuh jerawat batu di wajah? Pasti rasanya sakit dan tidak nyaman bukan? Apalagi saat kita sedang bersujud jika jerawat tersebut tumbuh di dahi kita.

Tapi, bagaimana jika yang tumbuh itu bukanlah jerawat melainkan tumor ganas yang terus menggerogoti wajah. Sakit? Sudah tentu. Begitulah yang dirasakan oleh seorang Ustadz yang tinggal di Desa Sori Sakolo, Kec. Dompu, Kab. Dompu, NTB.

Setiap hari Ust. Hasan harus berjuang untuk melawan penyakitnya. Meskipun penyakit ganas ini menggerogoti wajahnya, setiap ba'da maghrib Ustadz Hasan dengan penuh semangat mengajar ngaji anak-anak di lingkungan sekitarnya tanpa meminta imbalan sedikitpun. Syukurlah tumor Ustadz Hasan bisa dioperasi dan ia pun bisa kembali mengajar.

Namun, belakangan ini beliau harus rehat dari kegiatan mengajar mengaji karena tumor tumbuh lagi di wajahnya. Tumor yang awalnya kecil, kini semakin membesar dan semakin menyakitkan. Hingga pada akhirnya dokter di Mataram tak mampu menangani kasus tumor yang dimiliki Ustadz Hasan dan beliau harus segera dirujuk ke rumah sakit di Bali. 

Sahabat dapat membaca cerita lengkap Ustadz Hasan di sini

4. Pak Amir : Setiap Langkah yang Ditempuh adalah Bentuk Pengabdian untuk Bangsa

pak-amir-harus-berjalan-kaki

“Gaji seorang guru di pedalaman memang memprihatinkan. Apalagi guru honorer.”

Setiap langkah kaki yang ia tempuh dari rumahnya di Desa Wolwal, Kab. Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah bentuk pengabdian untuk bangsa agar bisa mencerdaskan dan membina anak-anak di pedalaman. Pak Amir namanya.

Honornya yang hanya Rp 300.000/bulan mungkin tak sebesar jasanya. Sering kali jarak sejauh 2 km yang Pak Amir tempuh membuatnya kelelahan dan terlambat untuk mengajar ke sekolah. 

Namun, semua itu terobati oleh senyum anak-anak yang menyambut Pak Amir dan membuatnya siap untuk langsung mengajar.

Anda bisa mengapresiasi perjuangan Pak Amir dengan membaca ceritanya di sini.

Baca Juga: 5 Alasan Kenapa Harus ke Nusa Tenggara Timur

Cerita Perjuangan Belum Usai


Untuk memajukan pendidikan di Indonesia terutama di wilayah pedalaman tidak bisa jika hanya mengandalkan satu pihak saja. Perlu adanya gotong-royong dari berbagai pihak agar bisa mencetak generasi penerus bangsa yang cerdas serta memiliki masa depan yang cerah.

Bantu perjuangan guru-guru lain di pedalaman di sini