Mengenal Stunting (Ciri, Dampak dam Cara Mencegahnya)

Senin, 01 Maret 2021

Selamat Hari Gizi Internasional!
Kesadaran akan pentingnya gizi dan pertumbuhan bagi anak sangat penting. Terlebih, bagi mereka yang memang memiliki bayi, balita maupun ibu hamil yang sedang mengandung anaknya. 

Menteri Kesehatan mengungkap bahwa kasus stunting di Indonesia sendiri dari tahun ke tahun justru terus mengalami peningkatan. Bahkan 1 dari 3 balita di Indonesia mengalami stunting.

Apa itu stunting?

Stunting (gagal tumbuh) adalah masalah gizi kronis yang ditandai dengan tubuh pendek. Penderita stunting pada umumnya rentan terhadap penyakit, memiliki tingkat kecerdasan dibawah normal, serta produktivitas yang rendah. 

Pada tahun 2019, survey membuktikan bahwa di Indonesia sekitar 30 persen balita dilaporkan mengalami stunting. Kondisi ini tentunya bisa disebabkan oleh banyak aspek mulai dari pendidikan hingga aspek ekonomi.

Dampak stunting yang sangat sulit untuk diperbaiki dan dapat merugikan masa depan anak di kemudian hari nanti membuat penyakit ini penting untuk dicegah.

Ciri-ciri stunting?

Menurut Kemenkes RI, balita bisa diketahui stunting bila sudah diukur panjang dan tinggi badannya, lalu dibandingkan dengan standar. Kemudian dari hasil pengukuran tersebut bisa diketahui apakah seorang anak sedang mengalaminya atau tidak.


Perlu diketahui bahwa tidak semua balita yang memiliki perawakan pendek pasti menderita stunting. Karena bisa jadi meskipun gejalanya sama namun penyebab dari penyakitnya berbeda-beda. 


Selain tubuh dan perawakan yang pendek dari anak seusianya, balita penderita stunting juga mengalami ciri-ciri lain seperti: pertumbuhannya lambat, wajah tampak lebih muda dari anak seusianya, pertumbuhan gigi terlambat, performa yang buruk pada kemampuan daya ingat dan juga memori, serta berat badan tidak naik bahkan cenderung menurun.

Faktor utama penyebab stunting


Sementara itu beberapa faktor yang bisa membuat seorang balita mengalami stunting yaitu disebabkan oleh dua faktor. Pertama adalah faktor lingkungan seperti status gizi ibu, tidak cukup protein dalam proporsi total asupan kalori, pola pemberian makan kepada anak, kebersihan lingkungan, dan angka kejadian infeksi di awal kehidupan seorang anak. Selain faktor lingkungan, juga dapat disebabkan oleh faktor genetik dan juga hormonal. Akan tetapi, sebagian besar perawakan pendek disebabkan oleh malnutrisi. 
Jika gizi pada balita tidak tercukupi maka akan menimbulkan efek yang cukup serius. Baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. Gejala stunting jangka pendek meliputi hambatan perkembangan,penurunan kekebalan tubuh, perkembangan otak yang tidak maksimal yang membuat sulitnya mengikuti proses belajar, serta prestasi belajar yang buruk. Sedangkan untuk efek jangka panjangnya meliputi obesitas, penurunan toleransi glukosa, hipertensi, penyakit jantung koroner serta osteoporosis.

Apakah stunting bisa dicegah?


Menurut IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) stunting bisa dicegah dengan melakukan beberapa cara. 


Pertama, upaya pencegahan bisa dimulai sejak masa kehamilan. Bagi ibu hamil yang bisa dilakukan yaitu melakukan pemeriksaan kehamilan secara teratur, menghindari asap rokok dan juga alkohol, memenuhi nutrisi yang baik selama masa kehamilan dengan menu makanan yang sehat dan juga seimbang seperti yang mengandung zat besi, asam folat dan yodium.


Kedua, jika anak sudah lahir, bisa melakukan kunjungan secara teratur ke dokter atau pusat pelayanan kesehatan setempat untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan sang anak.


Memberikan ASI eksklusif hingga anak berusia 6 bulan disertai pemberian MPASI (Makanan Pendamping Air Susu Ibu) yang memadai. Terakhir mengikuti program imunisasi terutama imunisasi dasar.

Apakah anak yang menderita stunting bisa kembali normal?


Sayangnya, stunting adalah kondisi gangguan pertumbuhan yang tidak bisa dikembalikan seperti semula. Maksudnya, ketika seorang anak sudah stunting sejak masa balita, pertumbuhannya akan terus melambat hingga ia dewasa. Akibat sudah terkena stunting di waktu kecil membuat pada saat puber ia tidak dapat mencapai pertumbuhan maksimal.


Ahli gizi menyebutkan bahwa perkembangan otak anak yang mengalami stunting atau kekerdilan tidak akan bisa pulih atau diperbaiki dengan asupan gizi setelah melewati usia dua tahun.


Bagaimana dengan kondisi balita di pedalaman?


Seperti kita ketahui bahwa kondisi perekonomian di pedalaman memang sangat memprihatinkan. Di mana, masyarakat miskin maupun pra-sejahtera masih sangat banyak di sana. Sahabat bisa memberikan bantuan terbaiknya bagi masyarakat kurang beruntung melalui link berikut