Miris Tapi Nyata, Begini Kondisi 4 Masjid di Tengah Hutan Pedalaman

Senin, 19 Oktober 2020

Masjid lebih sering dikenal sebagai tempat ibadah bagi umat Islam. Padahal, fungsi masjid lebih dari sekedar itu. Dalam sejarah perkembangan Islam, masjid digunakan untuk kegiatan-kegiatan lain yang mengakomodir kepentingan umat, seperti pengajian, belajar baca tulis Alquran, tempat musyawarah, dan lain sebagainya.

Bagi umat muslim di daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) yang jumlahnya minoritas, kehadiran masjid menjadi sangat penting bagi mereka. Di tengah segala keterbatasan, keberadaan masjid seperti menjadi oase di tengah gurun.  

Tak hanya digunakan untuk sholat, masjid-masjid di pedalaman juga digunakan sebagai pusat kegiatan muslim di sana, tempat masyarakat yang ingin mengenal Islam lebih jauh hingga akhirnya menjadi muallaf. 

Sayangnya, kebanyakan dari masjid-masjid tersebut kondisinya memprihatinkan. Berikut adalah kondisi 4 masjid di tengah hutan yang ada di pedalaman NTT:

1.    Mushola Al Jihad, Dusun Kembo

Bangunan ini adalah tempat sholat masyarakat di Dusun Kembo, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Karena keterbatasan biaya, warga hanya mampu membangun mushola dengan bahan-bahan seadanya seperti bambu, jerami, besi, dan semen.

Meski berukuran sempit sehingga disebut, warga tetap menggunakan tempat ini untuk sholat sehari-hari. Terang saja, dibutuhkan jarak sejauh 2 kilometer untuk menuju masjid terdekat sehingga warga lebih memilih sholat di mushola mereka yang kini sudah mulai rusak dimakan usia. Bantu warga Dusun Kembo merenovasi masjid mereka.

2.    Masjid Bambu Nurusahada, Kampung Bawek

Warga Kampung Bawek, Pulau Flores, NTT harus menempuh perjalanan sejauh 6 kilometer untuk menuju masjid terdekat. Hal itu membuat mereka tergerak untuk membangun masjid sendiri di kampung mereka. Menyisihkan sebagian penghasilan sebagai petani, warga pun patungan bergotong royong membangun masjid.

Kegiatan itu berlangsung 15 tahun yang lalu. Kini Masjid Nurusahada memang masih berdiri, tapi dindingnya yang terbuat dari bambu sudah mulai lapuk, dindingnya penuh lubang, dan atapnya sudah dipenuhi karat. Bantu petani Kampung Bawek membangun kembali masjid mereka.

3.    Masjid Jabal Nur, Desa Campang Soba

Berada jauh di pedalaman, masjid di tengah hutan ini dibangun pada tahun 1990. 30 tahun kemudian masjid ini masih digunakan oleh 270 jamaah warga di Desa Campang Soba. Mereka masih bersemangat beribadah di Masjid Jabal Nur meskipun sudah tak layak lagi digunakan.

Kayu-kayunya sudah mulai retak dan dindingnya penuh lubang. Debu, hujan, dan angin pun bisa leluasa masuk ke dalam masjid dan mengganggu jamaah yang sedang khusyuk beribadah. 

4.    Masjid Al Mukhlisin, Nanga Baras