NTT, Provinsi Nomor 1 Kekeringan Terparah se-Indonesia

Selasa, 20 Agustus 2019

Sahabat, tahu gak? Ada 7 provinsi yang mengalami dampak kekeringan. Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi wilayah kekeringan yang paling parah se-Indonesia. Sebanyak 851 desa di NTT yang merasakan dampak kekeringan.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), lebih dari 1.900 desa di 79 kabupaten dan tujuh provinsi terdampak kekeringan. Tujuh provinsi tersebut yakni NTT, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Barat, dan Bali. (1)

Kekeringan ekstrem di NTT sendiri melanda 12 wilayah. Menurut Kepala Stasiun Klimatologi Kelas II Kupang, Apolinaris S Geru, 12 wilayah itu terdiri dari Kabupaten Kupang, Ende, Sikka, Flores Timur, Lembata, Sumba Barat, Sumba Timur, Sabu Raijua, Rote Ndao, Belu, Timor Tengah Utara dan Kota Kupang. Bahkan, ada tiga daerah yang mengalami hari tanpa hujan terpanjang, yakni Kabupaten Sumba Timur 137 hari, Kabupaten Lembata 126 hari, dan Kabupaten Belu 105 hari (2).

Pada musim kemarau, warga NTT sangat kesulitan untuk mendapatkan air bersih. Sungai-sungai dan sumur-sumur mengering serta sumber mata air menipis.

Di wilayah Noko, Timor Tengah Selatan, air sungai menjadi kering. Warga di sana mengandalkan dua sumber mata air saat musim kemarau. Satu sumber mata air digunakan untuk keperluan mandi, cuci, dan kakus. Sedangkan satu sumber mata air lainnya digunakan untuk dikonsumsi.

Setiap satu jeriken yang diambil, tiap warga harus membayar Rp1.000. Nantinya uang tersebut dikelola untuk keperluan warga, seperti penggalian sumur atau pembuatan sumur bor. Sedangkan di Kabupaten Alor, tangki dengan kapasitas 3.000 liter biasanya akan habis dalam satu sampai dua bulan.

Warga harus memutar otak agar kebutuhan air di musim kemarau tetap terpenuhi. Warga di Kabupaten Timor Tengah Selatan misalnya. Saat musim hujan, mereka menampung air hujan di dalam tangki.

Sementara itu, untuk warga di NTT yang tidak ada sumber mata air, mereka membeli air dari pasar air. Di Sumba, satu tangki air bersih dibanderol seharga Rp200.000,-. Sementara itu, di Timor Tengah Selatan, satu mobil pikap berisi 50 jeriken dibanderol Rp100.000,-.

Bayangkan jika kejadian itu kita sendiri yang mengalaminya. Apa kamu sudah siap untuk hidup dengan stok air yang menipis seperti mereka?

—---

 

(1) Wibowo, Agung. 2019. “Lebih dari 1.900 Desa di Tujuh Provinsi Terdampak Kekeringan“. Tersedia: https://bnpb.go.id/lebih-dari-1900-desa-di-tujuh-provinsi-terdampak-kekeringan

(2) Bere, Sigiranus Marutho. 2019. "Kekeringan Ekstrem Melanda 12 Wilayah di NTT". Tersedia: https://regional.kompas.com/read/2019/08/01/15322721/kekeringan-ekstrem-melanda-12-wilayah-di-ntt