Tidak Difilmkan di Layar Kaca, Berikut 3 Kisah Inspiratif dari Pedalaman Indonesia

Selasa, 15 September 2020

Pernahkah Sahabat menyaksikan film yang bercerita tentang pedalaman? Biasanya, film berlatar belakang daerah pedalaman menceritakan perjuangan warga lokal mengejar mimpi di tengah segala keterbatasan. Sebut saja film Nias atau trilogi Laskar Pelangi. 

Ternyata cerita perjuangan yang menginspirasi bukan hanya cerita di film. Dalam kehidupan sehari-hari pun banyak warga di pedalaman yang berjuang melawan keterbatasan, dan tidak semua kisah mereka bisa kita lihat di layar kaca.

Berikut adalah 3 Kisah Inspiratif dari Pedalaman yang tidak difilmkan di layar kaca.

1.    Ayu, Pejuang Sakit Jantung 

Apa yang akan Sahabat lakukan jika tubuh Sahabat merasa sangat lemah sampai tidak bisa berjalan? Itulah yang dialami Ayu Lestari 2 tahun yang lalu. Saat itu Ayu tiba-tiba merasakan sakit yang tidak biasa. Semakin lama perut Ayu menjadi semakin besar, kaki dan kelopak matanya ikut membengkak serta rambutnya mulai rontok berjatuhan.

Di usianya yang menginjak 13 tahun, Ayu ingin sekali bisa beraktivitas normal dan bermain-main dengan teman-temannya yang lain. Namun, sakit yang datang tiba-tiba itu membuatnya tidak bisa melakukan apa-apa. Ayu tinggal dengan bibinya yang berprofesi sebagai penenun. Penghasilan bibinya yang tak seberapa membuat Ayu tidak bisa mendapatkan pengobatan yang cepat dan layak pada saat itu.

Namun, Ayu tidak menyerah. Berkat doa dan dukungan penuh dari Sahabat Pedalaman seluruh Indonesia, Ayu dapat menjalani pemeriksaan intensif di RSUD Bima. Atas rujukan dari dokter, 2 hari kemudian Ayu dirujuk ke RSUP Mataram untuk melakukan pemeriksaan yang lebih intensif. Hasil pemeriksaan menunjukkan jika pada jantung Ayu ada pembengkakan karena terdapat cairan di dalamnya. 

Setelah dilakukan rawat inap dan pengobatan yang intensif, Ayu pun Kembali ke RSUD Bima dan beberapa hari kemudian diperbolehkan pulang. Kini, Ayu sudah bisa bernafas lega karena semua penyakitnya sudah tak lagi ia rasakan. Perutnya sudah kempes dan Kembali normal. Berat badannya juga sudah naik dan ia sudah menjadi Ayu yang berbeda dari setahun sebelumnya.

Dari Ayu kita belajar, seburuk apapun ujian yang menerpa, kita tak boleh sekalipun menyerah dan harus tetap kuat menjalaninya. 

2.     Adzan Pertama di Masjid Harekakae

Jika Sahabat berada di sebuah lokasi dan harus berjalan sejauh 4 kilometer untuk sholat. Apa yang Sahabat akan lakukan? 4 km bukanlah jarak yang dekat, dibutuhkan setidaknya 30-40 menit perjalanan hingga bisa sampai ke tujuan. Itulah yang dilakukan oleh warga muslim di Desa Harekakae, Kecamatan Malaka Tengah, Nusa Tenggara Timur (NTT) setiap kali akan sholat. 5 kali dalam 1 hari. 35 kali dalam 1 pekan.

Di Malaka Tengah saja, total hanya sebanyak 3 bangunan masjid di seluruh Kabupaten. Warga muslim di Desa Harekakae seringkali lebih memilih sholat di rumah karena jarak yang jauh. Sepanjang jalan pun tidak ada penerangan, sehingga perjalanan menuju ke sana sangat gelap.
Karena besarnya harapan untuk memiliki masjid, warga desa pun sepakat untuk patungan. Berbekal upah yang tak seberapa dari bertani, warga desa menyisihkan sebagian penghasilannnya untuk membangun masjid pertama di desa mereka. 

Allah seakan mendengar harapan dan keinginan mereka. Kabar rencana pembangunan masjid pertama di Desa Harekake tersiar ke seluruh Indonesia. Sahabat Pedalaman pun membantu memenuhi kebutuhan pembangunan masjid. 

Setelah dana sudah terkumpul, pembangunan masjid dimulai. Warga desa bergotong royong menuju tanah kosong yang nantinya akan menjadi masjid pertama di Desa Harekakae. Sayangnya, proses pembangunan tak semudah yang dibayangkan. Ada kendala-kendala yang harus dihadapi warga. Seperti kekeringan di NTT yang menyebabkan tidak adanya pasokan air, hingga robohnya dinding masjid yang baru saja dibangun karena diterjang angin kencang. 

Di tengah berbagai masalah yang menerpa, warga Desa Harekakae terus berikhtiar dan tak henti memanjatkan doa demi kelancaran pembangunan masjid mereka. Sekian bulan berlalu, masjid yang diberi nama Al-Bahr itu sudah hampir selesai. Gapura dan kubah mini akan menjadi tahapan terakhir dari pembangunan. 

Kini, saatnya mengumandangkan adzan pertama di Desa Harekake, NTT.

3.    1989 : Bertahan Hidup Setelah Diterkam Buaya

Memiliki tubuh besar dan hidup di air, buaya jadi salah satu reptil yang ditakuti. Umumnya, buaya menghuni habitat perairan tawar seperti lahan basah, rawa, danau, dan juga sungai. Binatang ini dapat bergerak dengan sangat cepat pada jarak pendek, baik di dalam maupun di luar air. Buaya juga mempunyai rahang yang sangat kuat, menjadikannya sebagai hewan dengan kekuatan gigitan yang paling besar, menggungguli binatang lainnya.

Tahun 1989 adalah tahun yang tak akan pernah dilupakan oleh Nek Lima, seorang warga lokal yang tinggal di Kampung Nangalok, Desa Golo Lijun, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, NTT. Pada saat itu, Nek Lima sedang mengantarkan makanan untuk suaminya yang bekerja di kebun.

Nahas baginya, seekor buaya yang datang dari sungai di seberang kebun tempat suaminya bekerja tiba-tiba datang dan menerkam dirinya. Kaki Nek Lima pun terluka karena digigit oleh buaya.

Saat itu, berbagai upaya dilakukan oleh Nek Lima agar kakinya bisa sembuh. Namun, tidak adanya biaya membuat Nek Lima hanya mampu menjalani pengobatan tradisional di kampungnya. Sayangnya, pengobatan tersebut tidak mampu menyembuhkan kakinya.

Tak berselang lama dari kejadian itu, suami Nek Lima meninggal karena sakit keras. Dunia seakan runtuh, hari-hari Nek Lima seketika gelap semenjak dua kejadian berat yang dialaminya.

31 tahun berlalu. Meski melewati berbagai ujian, Nek Lima masih sanggup bertahan dan hidup hingga saat ini. Kesedihannya memang belum usai, tapi semangatnya untuk hidup masih membara seiring dengan usianya yang semakin senja. Nek Lima masih membutuhkan bantuanmu sekarang.

Sahabat, itu tadi 3 kisah inspiratif dari pedalaman yang tidak difilmkan di layar kaca. Semoga, dengan membaca kisah tersebut kita dapat semakin bersyukur dalam menjalani kehidupan. Amiin ya rabbal alamin.